Punya 'Juru Selamat' Baru, 2017 Jadi Tahun Paling Penuh Harapan Buat AS

Dalam sebuah survei terbaru, dilaporkan thehill,com, 72 persen warga Amerika Serikat dilaporkan berharap tahun 2017 akan menjadi tahun penuh harapan usai terpilihnya Donald Trump sebagai 'Juru Selamat' yang baru.

Julukan sebagai 'Raja' dari 'Kerajaan Allah' atau 'Juru Selamat' bagi Donald Trump (baca), sempat membuat kontroversi di media sosial.

Publik AS dan duniapun tak sabar menanti kebijakan-kebijakan Trump yang dinilai mengkhawatirkan.

Mulai dari kebijakan anti-pemeluk agama tertentu, hubungan dengan Tiongkok, Rusia dan Timur Tengah dan kebijakan ekonomi yang tertutup.

Semuanya didengung-dengungkan dalam kampanye pilpres baru-baru ini.

Operation Gladio: Cara NATO Meneror Warga Eropa untuk Melindunginya

Organisasi NATO disebut menggunakan berbagai cara untuk melindungi Eropa dan sekutunya sebagai bagian dari misi utamanya. (baca)

Baca: Pesan Natal Paus Fransiskus, Damai bagi Dunia yang Diamuk Terorisme

Salah satunya adalah dengan menggelar Operation Gladio, sebuah lembaga teroris, yang sudah diterapkan seusai perang dunia II.

Consequently, Gladio was turned against the European communist parties. The Italian intelligence service together with the CIA began bombing public places in Italy, such as the Bologna train station in which 285 people were killed, maimed, and otherwise wounded. (sumber)

Baca: NATO’s Secret Armies. Operation GLADIO and the Strategy of Tension

Dalam operasinya operasi ini menggunakan cara-cara teror kepada warga Eropa sendiri, dengan menciptakan masala; tension, dengan menggunakan tangan-tangan mussulnya; mulai dari Komunis, kelompok kanan dan belakangan Islam dengan ISIS-nya.

Exactly when the pro-active part of the secret armies mission was turned into a means for domestic counter-subversion is not clear. At some point in the 1950s or 1960s there was a change in strategy that used the secret armies not just to gather intelligence on these groups and individuals, but to destroy their support through violence. Numerous terrorist outrages, from Turkey to Ireland, were instigated, provoked or simply carried out by members of the secret armies, including numerous bombings in Italy and the assassination of Aldo Moro, the Oktoberfest bombing in Munich and the Brabant Massacres in Belgium. All forms of urban terrorism were perpetrated, often by neo-Fascists posing as Leftists, in order to terrify the public, polarise public opinion and destroy support for mainstream Leftist political movements. The process was a great success, ultimately contributing to the downfall of the Soviet Union and ensuring that the policies chosen by the leaders of NATO countries were in keeping with the overall trajectory desired by the Anglo-American establishment. (sumber)

Baca: Gladio B: The Origins of NATO’s Secret Islamic Terrorist Proxies

Perekrutan terhadap migran Muslim yang labil secara masif dilakukan untuk meneror warga Eropa. Diharapkan, warga Eropa akan bersatu setelah 'diingatkan' mempunyai musuh.

Prepare to be stunned. Following World War Two, in business together were the Vatican, the CIA and the Mafia. Pope Pius X11 and friends created the Vatican Bank and started laundering drug money for the CIA. Lucky Luciano and the Sicilian Mafia helped the evolving CIA to create a huge money laundering scheme to pay for terrorist attacks that plagued Europe for many years, killing and wounding thousands to prevent leftists from taking over governments. The Vatican Bank provided funds for CIA to help overthrow leaders and social movements in many countries of Europe and Latin America etc. Imagine, the Australian government ousted in a coup. (sumber)

Undersea Electronic Spiesto to Nab Oyster Bed Raiders

Electronic spies come in all shapes and sizes, but none is as funny looking as an oyster impersonator called the Flex Spy now infiltrating the waters off western France.

Looking for all the world like the bivalves it is protecting, the plastic imposter is fitted with a circuit board that allows it to snitch on thieves.

Invented by French start-up Flex-Sense, the device has been on the market since September.

After the first prototypes were tested in Vietnam, the gadgets are now making their (undercover) appearance in the oyster beds off France’s Atlantic coast, with a major deployment planned in February.

Several dozen tonnes of oysters are stolen each year out of France’s total production of 100,000 tonnes.

“It may not be a big proportion, but it is a lot for the operator who is robbed” after seeing much of his production wiped out by a mystery disease for the past several years, said oyster farmer Gerald Viaud, president of the national shellfish farmers’ association.

Theft is a “real problem” in the sector, which is “always on the lookout for solutions”, from surveillance cameras to ground, sea and air patrols, he said.

One quirkier approach is to fill an oyster shell with cement stamped with the farmer’s phone number in the hope that a vendor who finds it among stolen oysters will contact the victim.

Enter Flex-Sense, which was founded some 18 months ago specialising in wireless telemetry in complex environments.

Initially it was interested in offering shellfish farmers a way to monitor water temperature, salinity and oxygen concentration from a distance to enable them to limit the mortality rates of their mussels and oysters.

But customers were also interested in ways to prevent thefts, which spike ahead of the holiday season.

After months of development, the electronic oyster was hatched.

‘You have to innovate’

Infiltrated into an oyster bed, the waterproof, pressure-resistant Flex Spy is equipped with an antenna, a simple motion detector, a buzzer and a frequency modulator, said Sylvain Dardenne, co-founder and commercial director of Flex-Sense.

The user pulls out a pin — think hand grenade — before setting the energy-efficient device among the oysters.

The electronic spy kicks into action if it detects suspicious movement, transmitting an alert to the oyster farmer’s phone or computer.

The user can then track the oysters’ movements for up to a week.

If left to “sleep” without the need to report intruders, the Flex Spy can lurk in its watery field of operations for 60 months with no need for recharging — more than 20 times more than any geo tracker, notes Dardenne.

“Since you can’t monitor the entire shoreline, you have to innovate,” Viaud said. “The electronic oyster may not be the ideal solution, but it’s a step in the right direction.”

It is too early to judge the device’s effectiveness, however, since no thieves have yet been caught.

So far Flex-Sense claims around 50 clients who pay 10 euros (dollars) a month for each Flex Spy, Dardenne said.

The company wants to go on to adapt the device for use in the construction industry, he added. (source)

Polisi Ajudan Bupati Todong Pistol ke Wakil Bupati Buat Geger Jeneponto

Seorang ajudan Bupati di Jeneponto yang merupakan seorang polisi menodongkan pistol ke Wakil Bupati.

Kejadian ini terjadi usai sebuah perayaan keagamaan di Kabupaten tersebut. (baca)

Belum diketahui apa penyebabnya, tapi peristiwa ini sempat membuat geger warga.

Sementara itu Kapolres setempat membantah adanya insiden tersebut. (baca)

War of the Planet of the Apes: Ketika Monyet Radikal Menjadi Teroris Pemberontak

Film 'War of the Planet of the Apes' bakal tayang pada 2017. Dalam trailernya, monyet-monyet akan membentuk pasukan untuk menguasai dunia. (baca)

Seperti halnya dalam film-film Ape sebelumnya, akan ada pergumulan antara sisi kemanusiaan dengan perasaan sesama makhluk yang akan menghibur penonton. (baca)

Aknkah ada hal baru dalam film ini?

Saat Anak Miliarder Tolak Warisan Rp. 1.214 Triliun

Miliader Tiongkok, Wang Jianlin, pemilik Dalian Wanda Group sedang dirundung masalah. Pria 62 tahun tak habis pikir dengan keputusan anaknya yang menolak mewarisi kerajaan bisnisnya yang bernilai ratusan triliun ini.

Dilansir dari shanghaiist, secara resmi Jianlin mengatakan bahwa anaknya yang bernama Wang Sicong dengan tegas menolak untuk mewarisi kerajaan bisnisnya yang senilai 634 miliar yuan atau sekitar Rp 1.214 triliun.

"Aku sudah meminta anak saya tentang rencana sukses, dan ia berkata ia tidak ingin hidup seperti saya," kata Wang Jianlin dilaporkan arah.com.

Jianlin menambahkan bahwa anaknya sudah menentukan masa depannya sendiri sehingga Ia menolak tawaran untuk melanjutkan bisnis keluarga.

"Barangkali anak-anak muda sekarang memiliki jalan dan prioritas mereka sendiri. Mungkin ini akan lebih baik untuk menyerahkannya kepada manager profesional dan kami hanya tinggal duduk dan melihat mereka menjalankan perusahaan," sambungnya.

Sicong kabarnya lebih tertarik menjadi selebritis internet. Di akun media sosial Weibo, jumlah pengikut pria 29 tahun ini sudah mencapai 21 juta orang.

Hingga kini Jianlin masih bingung kepada siapa Ia akan menyerahkan bisnis ribuan triliunnya ke depan.

Dahsyatnya #Om Tolelet ##OmTeloletOmGoInternational #BusChallenge

Video viral suara klakson tolelet telah sampai ke luar negeri.

Beberapa netizen menyerbu akun-akun presiden, seleb dan tokoh dengan pengikut media sosial banyak dengan komentar tolelet.

Di Twitter akhirnya menjadi trending topik

Berikut beberapa video lucu.

Adam Saleh Diusir karena Gunakan Bahasa Ibunya #toleransi

Adam Saleh, youtuber AS yang sudah eksis di Youtube, mengalami pengalaman yang pahit.

Dia diusir dari pesawat karena menggunakan bahasa daerahnya, alias bahasa ibunya.

Videonya lalu diliput oleh berbagai media.  (baca)

Dia menjelaskan, dia diusir dari pesawat hanya karena ada penumpang yang merasa tidak nyaman dengan bahasanya yang berbeda.

Ketika Media AS dan Rusia Berdebat Soal Berita Palsu dan Hoax #Spirit212 #tolelet

Perdebatan mengenai berita palsu dan hoax terus bergulir di AS, paska pilpres 2016.

Beberapa dari perdebatan itu terdapat di Youtube yang kemudian dikomentari oleh netizen.

Berikut ini beberapa perdebatan soal berita palsu dan hoax seputar pilpres AS. (Lihat videonya lainnya di sini)

LSM LIRA Anugerahkan 'Bela Negara Award' untuk Kapolri & Panglima TNI #Spirit212

LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) memberikan apresiasi kepada Kapolri Tito Karnavian dan Palima TNI, Gatot Nurmantyo yang telah sukses mengamankan aksi super damai 212 umat Muslim di Monas, Jakarta. Mereka akan dianugerahkan “BELA NEGARA AWARD”

“Untuk mengamankan dengan jutaan massa serta aksi diberbagai daerah tidak mudah agar tetap aman dan kondusif. Tito Karnavian dan Gatot Nurmantyo layak memperoleh penghargaan bela negara serta dari Presiden Jokowi,” tegas Presiden LSM LIRA, HM. Jusuf Rizal usai penutupan Pelatihan Kader Penggerak Kepemimpinan Bela Negara oleh Menkop UKM, AAG Puspayoga di TMII Jakarta

Menurutnya, Polri dan TNI telah memperoleh ujian yang luar biasa dalam menggerakkan semua daya, upaya dan instrumen untuk melakukan pengamanan yang menyejukkan. Tidak hanya secara teknis, tapi juga secara politik dengan melakukan komunikasi politik pada semua lini.

Apa yang dilakukan Presiden Jokowi serta diikuti oleh Kapolri Tito Karnavian dan Palinglima TNI Gatot Nurmantyo melakukan safari komunikasi politik cukup efektif meredam gejolak. Ini merupakan prestasi yang luar biasa.

“Karena itu sebagai bentuk apresiasi dari Civil Society Organization (CSO) terhadap prestasi itu, LSM LIRA akan menganugerahkan BELA NEGARA AWARD kepada Kapolri Tito Karnavian, Palinglima TNI, Gatot Nurmantyo, Muhammad Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Tengku Zulkarnaen dll. Mereka adalah sosok yang mengimplementasikan semangat Bela Negara,” tegas pria yang juga pembina Majelus Dzikir Merah Putih (MDMP) LSM LIRA itu dilaporkan beritalima.com.

Dikatakan muslim Indonesia pasti ikut berterima kasih karena tanpa dukungan semua pihak aksi super damai 212 tidak akan terwujud dengan aman, damai dan tentram. Namun demikian agenda untuk mendesak penista agama harus dihukum akan tetap dikawal agar tidak masuk angin.

Pemberian penghargaan tersebut akan dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Bela Negara, 19 Desember 2016. Pemberian penghargaan dilakukan tidak dengan acara meriah.

“LSM LIRA cukup akan sampaikan penghargaan “Bela Negara Award” kepada mereka yang kita apresiasi. Namun bila memungkinkan kami memiliki dana yang cukup akan kita meriahkan agar dapat menjadi stimulans bagi masyarakat umum'” tegas tokoh penggiat anti korupsi berdarah Madura-Batak itu.

Sementara itu dilaporkan pembawaberita.com, ormas Muslim Tionghoa Indonesia (MUSTI) dan Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK) berencana untuk menganugerahkan sebuah penghargaan kepada Habib Rizieq sebagai, ” Tokoh Indonesia 2016, (Man Of The Year 2016)” dalam waktu dekat.

Informasi ini beredar melalui undangan dari Ketua Suku MUSTI, H. Jusuh Hamka, dan Koordinator KOMTAK, Lieus Sungkharisma dalam jumpa pers yang dilaksaakan dilaksanakan pada hari Selasa (20/12) bertempat di restoran Al Jazeera, Johar, Jakarta Pusat.

Direncanakan dalam acara jumpa pers ini juga akan dilakukan Ishlah antara Musisi Ahmad Dhani dan Pengacara Farhat Abbas yang selama ini diketahui berseteru, hingga saling melaporkan ke pihak kepolisian.

Selain dua penghargaan tersebut, ormas Islam Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) mengeluarkan Refleksi Akhir Tahun di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar sejak tanggal 17-20 Desember 2016 di Jakarta dilaporkan gontornews.com.

Salah satu isi dari Refleksi Akhir Tahun ini Parmusi mengusulkan seluruh komponen umat Islam khususnya ormas Islam, OP Islam, majelis taklim, DKM, Laskar Islam, untuk segera bermusyawarah menentapkan Habib Rizieq Syihab sebagai Imam Besar Nasional untuk menjadi acuan dalam penegakan amar makruf nahi munkar di negeri ini.

Defense: The Next-Generation Rockets That Japan Could Use To Protect Itself

Uncertainties about U.S. policy in Asia will affect the security postures of allies in the region. Japan, for one, is going to tilt even more toward its own national security space ventures. As the country’s defense minister Tomomi Inada urged recently, the time is ripe for Japan to reevaluate how best to protect itself.

At a practical level, space assets are going to loom large in any reevaluations about protecting Japan’s security. Two are worth watching, both of which I wrote about at early stages last year. As 2016 comes to a close, both have progressed and are worth a reassessment in the new geopolitical context for Japan.

Back to Orbital Debris

The first involves spacecraft, wrapped up in the familiar saga of orbital debris. The space technologies for getting rid of orbital debris can also serve national security purposes. In my July 2015 column, I drew attention to a leading Japanese company, Nitto Seimo, whose roots go back over a century to 1910 when it started off making fishing nets. Nitto Seimo has been collaborating with the Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) to extend some of its knotless net technology business to outer space.

On December 10, Mitsubishi Heavy Industries and JAXA notified the public of the successful launch of the H-IIB rocket, carrying the Kounotori cargo ship to the International Space Station (ISS). After four days, it docked successfully with the ISS and began unloading its cargo.

Its return journey is of significance. Normally, the cargo ship reenters the atmosphere and burns up; this time, however it is going to carry out a KITE experiment, short for Kounotori Integrated Tether Experiment. If all goes well, a 700 meter electrodynamic tether will unfurl and attempt to deorbit especially large pieces of debris, considered hazardous for space safety. A depiction for how this might work is available for viewing at Nitto Seimo’s website, the company that built the “conductive net tether” for the forthcoming experiment.

Earlier, I wrote that if Japan could deploy a net in partnership with a company to capture space junk it sends a signal that it can also trap functional space objects belonging to others. Or if Japan could develop electrodynamic tethers to slow down and drag non-functioning objects into the atmosphere, it could also shackle or debilitate the working spacecraft of others.

So while cleaning up space debris is a worthy goal, these national security realities in orbital cleanup must be kept firmly in mind.

Forward to Epsilon

The second thing to keep an eye on is the fate of Japan’s advanced solid rocket, Epsilon. The three-stage Epsilon rocket is a descendant of the M-V that is widely hailed as one of the top solid-propellant rockets in the world. In another column in May 2015, I drew attention to Epsilon’s significant implications for Japan’s national security directions.

Epsilon’s successful maiden flight in 2013 is being followed up at the end of this year, and the countdown to its launch date has begun. The company involved in the design and manufacture of Epsilon is IHI Aerospace, with the stated goal of launching small satellites. Both IHI Aerospace and JAXA have touted the rocket’s technical advances geared toward faster and more efficient launches, such as an autonomous on-board checkout system and remote mobile control via a few personal computers.

Epsilon still has to establish a track record. Whether it can allow Japan to break into the small satellite launch market remains to be seen. But it has a dual use. This is because as I noted earlier like virtually all space technologies, it can cut across both commercial and military realities. The logic with which Japan cautions the world about other countries advancing or testing ICBM technologies under the guise of civilian space development also applies with equal force to the development and testing of the Epsilon. Its predecessor, the M-V that was retired in 2006, was marked as having capabilities similar to the U.S. MX Peacekeeper. The Epsilon continues Japan's independent technology strides in solid-propellant rocketry, and can significantly affect the prospects for the country's ICBM capabilities.  Down the road it can give Japan whole new ways of deterrence and defense options under its control.

Poised to Pivot

Japan’s national security space gambit makes sense from the perspective of a militarily weaker power in a world in flux. Japan is also being called upon to do more for its own defense by the incoming U.S. president, Donald Trump.

Next-generation space technology, unlike the nuclear option, allows Japan to do just that while also balancing its domestic pacifist orientations. Japan’s leadership is poised to pivot more openly toward strategic space-based means of deterrence and coercive diplomacy. These moves should be of keen interest to the country’s allies and rivals in the years ahead. (source)

Selain SoftBank Vision, Saudi Geber Investasi di Uber dan Noon.com

Arab Saudi dilaporkan sedang melakukan investasi besar-besaran di berbagai bidang untuk mendiversifikasi pemasukan negara dari minyak.

Baru-baru ini negara ini investasi 45 miliar dolar AS di SoftBank Vision milik miliarder Jepang (baca) dan juga 3,5 milar di perusahaan taksi online Uber. (baca)

Mereka juga mendanai startup lokal noon.com yang diproyeksikan menjadi pasar online terkemuka di Timur Tengah layaknya amazon.com. (baca)

Melalui SoftBank Vision, Arab Saudi akan menggalang dana sampai 100 miliar dolar untuk diinvestasikan diberbagai bidang teknologi di AS.

Presiden Donald Trump pernah membanggakan niat investasi ini. (baca)

Terlalu Kaya, Raja Sriwijaya Hobi Buang Emas ke Sungai, Warga Sumsel Buktikan Benar

Raja-raja di Sriwijaya dikenal oleh sejarah (baca) suka membuang emas ke sungai untuk menunjukkan kemakmuran negaranya. (baca)

Para musafir dan pengelana yang singgah ke Sriwijaya membenarkan hal itu.

Saat ini, dokumentasi tersebut ternyata benar. Dilaporkan (baca), warga Desa Ulak Kedondong Kecamatan Cengal, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, berduyun-duyung ke sungai untuk mengumpulkan kembali beberapa perhiasan emas yang muncul dari sungai.

Beberapa tempat yang banyak didatangi diantaranya dusun Talang Petai, Sungai Serdang, Kanal 12, Dusun Pasir, Sungai Jeruju, Sungai Lumpur, Sungai Bagan, Kanal Pisang, Kanal Tulang, dan Talang Sebaris.

Hanya bermodalkan sekop, cangkul, dan baskom, warga bisa mendapatkan berbagai perhiasan emas. (baca)

Selain cincin dan gelang emas beragam ukuran, warga juga mendapatkan patahan dan serpihan emas serta giok.

Hactivist: Myanmar VS Indonesia

Dunia saat ini sedang dijejali dengan pemberitaan serangan siber yang didiga dilakukan Rusia kepada AS, berhubungan dengan pilpres 2016.

Bila di lihat ke belakang, ternyata Indonesia sendiri pernah menjadi korban serangan siber dari Myanmar. (baca)

Menurut blog ini (baca), serangan itu dilakukan dengan mendeface portal-portal di Indonesia dengan gambar-gambar yang bersifat SARA.

Bila Kalah, Timnas Sia-Siakan Bonus Rp. 12 Miliar

Thailand sementara unggul 2-0 melawan Thailand di Final Piala AFF2016.

Bila skor tak berubah, bonus Rp 12 miliar tampaknya bakal hangus.

Dilaporkan, (baca) Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sejak awal menyaksikan kiprah Boaz  Solossa dan kawan-kawan, dalam membela Tim Nasional (Timnas) Indonesia dalam kejuaraan Piala AFF Suzuki 2016, berjanji akan memberikan bonus sebesar Rp 12 miliar jika Timnas bisa menang lawan tuan rumah Thailand, dalam pertandingan final leg kedua di Bangkok, Sabtu (17/12) malam.

“Kita semua berharap kitalah yang menjadi pemenang, menjadi juara. Dan juga kita siapkan bonus Rp. 12 miliar untuk seluruh pemain. Ini untuk menambah semangat para pemain,” kata Presiden ketika ditemui para wartawan saat berolahraga bersama warga di Kebun Raya Bogor, Sabtu (17/12) pagi.

Saat ditanya wartawan mengenai prediksi atas skor pertandingan malam nanti, Presiden menjawab, dirinya tidak mementingkan skor akhir. Ia dan juga seluruh rakyat Indonesia tentunya berharap agar berapapun skor pertandingannya, Indonesialah yang keluar sebagai juara.

“Keinginan kita menang. Keinginan rakyat juga ingin menang. Skor berapapun itu tidak apa-apa, yang paling penting menang,” harap Presiden.

Sebelumnya, dalam pertandingan final leg pertama yang digelar di Stadion Pakansari, Bogor, pada Rabu (14/12) malam, Timnas Indonesia mampu mengungguli Thailand dengan skor akhir 2-1.

Saat itu, Indonesia mampu bangkit dan mengejar ketertinggalan setelah pada babak pertama sempat tertinggal terlebih dahulu.

Komitmen Bogor: Hasil Halaqah Ulama ASEAN 2016

Halaqah Ulama ASEAN 2016 di Bogor menghasilkan kesepahaman yang diberi judul "Komitmen Bogor" (Bogor Commitment). Kepala Bidang Litbang Pendidikan Nonformal/informal Muhamad Murtadlo, Jumat (16/12), menjelaskan bahwa naskah kesepahaman ini diperlukan untuk meningkatkan diplomasi keagamaan dalam rangka mensukseskan terbentuknya masyarakat ASEAN dalam pilar kesatuan sosial budaya.

Komitmen Bogor ditandatangani oleh peserta perwakilan negara-negara ASEAN yang terdiri dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Brunai. Sementara duta dari Singapura, mengambil sikap menjadi saksi penandatangan naskah tersebut, karena harus mengkonsultasikan hal ini kepada beberapa pihak di negaranya, dilaporkan kemenag.go.id.

Dari Indonesia diwakili oleh dua pihak. Dari pihak perorangan diwakili Mantan Dubes RI di Libanon KH Abdullah Sarwani, dan mewakili institusi ditandatangani oleh Ketua Rabithah Maahidil Islamy (RMI) KH Abdul Ghaffar Rozin.

Sementara dari duta negara ASEAN, diwakili utusan masing-maisng, yaitu Dr. Ahmad Kamil Haji Yusof (Patani, Thailand Selatan), Dr. Haji Norafan Bin Haji Zainal (Brunai Darussalam), Prof. Dr. Mohd Syukri Yeoh Abdullah (Malaysia). Penandatanganan ini disaksikan oleh semua ulama dan kyai yang hadir pada acara Halaqah tersebut. Adapun isi "Komitmen Bogor" iniselengkapnya adalah sebagai berikut:

Pada hari ini Kamis tanggal Lima Belas bulan Desember tahun Dua Ribu Enam Belas Masehi bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW tanggal Lima Belas bulan Rabiul Awwal tahun Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Tijriyah yang bertempat di Hotel Salak The Heritage kami yang bertanda tangan di bawah ini setelah melaksanakan Halaqah Ulama Asean 2016 bersama-sama menyatakan sepakat dan setuju untuk membuat kesepahaman bersama dan membuat usulan serta mendorong kepada masyarakat ASEAN sebagai berikut:

1. Mensosialisasikan Islam Wasathiyah sebagai penjabaran Islam rahmatan lil alamin.
2. Membuat forum ilmiah bersama.
3. Membuat program bersama guna meningkatkan kualitas pesantren di negara-negara ASEAN.
4. Pertukaran santri dan guru (santri and teacher exchange) tingkat ASEAN.
5. Membuat pertemuan ulama dan majelis kerjasama tingkat ASEAN.
6. Menyerukan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia dalam beragama di wilayah ASEAN dan bersama-sama menanggulangi berkembangnya radikalisasi agama di Asia Tenggara dan dunia internasional.
7. Membuat kerjasama program pengembangan ekonomi, sosial, dan budaya pesantren dan kegiatan lain yang mendukung.

Menurut Murtadlo, Naskah Kesepahaman ini merupakan respon dari harapan beberapa narasumber yang hadir sekaligus usulan peserta yang mengharapkan agar silaturahmi ulama se-ASEAN terus dilaksanakan.

Sebelumnya, lanjut Murtadlo, Kepala Badan Litbang dan Diklat Abd Rahman Masud dalam kesempatan ramah tamah antar delegasi memunculkan usulan tentang pentingnya forum halaqah ini menghasilkan kesepahaman untuk bisa memajukan komunikasi dan kerjasama dalam pengembangan pesantren di Asean. Masud juga sempat melontarkan gagasan kemungkinan pertukaran santri antar negara bahkan juga bisa berupa menggagas prototype pesantren bersama ASEAN.

Senada dengan Masud, KH Abdul Ghaffar Rozin menyatakan, forum Halaqah ini sangat disayangkan jika tidak menghasilkan kesepahaman bersama. Menurut Rozin, sudah waktunya para ulama di ASEAN saling bahu membahu dan bekerjasa untuk mengembangkan Islam Washatiyah dalam merespon globalisasi. Salah satu gagasannya adalah merevitalisasi peran pesantren serta lembaga pendidikan Islam sejenis di ASEAN. Dikatakan Rozin, pesantren, zawiyah, pondok terbukti telah menjadi lembaga tradisional yang turut menjaga dan melestarikan Islam wasathiyah di masyarakat ASEAN.

Azyumardi Azra dalam pemaparannya bahkan menggarisbawahi Islam Wasathiyah sebagai ciri utama bahkan kelebihan dari corak Islam di Asia Tenggara. Menurutnya, di banyak negara Islam, bahkan di Timur Tengah, kehidupan keberagamaan tidak lebih baik bahkan senyaman di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Di Indonesia, umat Islam bisa dengan mudah melaksanakan ibadah, karena di berbagai sudut tempat ada mushala. Di Timur Tengah yang menjadi sumber Islam malahan tidak tersedia kemudahan ibadah seperti itu.

Azyumardi menilai hal itu terjadi karena keberhasilan Islam di nusantara ini mendialogkan kehadiran agama dengan budaya lokal yang ada. Karena itu, Islam wasathiyah yang telah menjadi khazanah utama Islam di Asean Tenggara ini perlu terus ditingkatkan.

Halaqah Ulama ASEAN 2016 di Bogor dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wakil Presiden) didampingi Menag Lukman Hakim Saifuddin pada Selasa (13/12). Halaqah ini menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu: Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah), KH Abdullah Sarwani (Mantan Duber RI di Libanon), KH Solahudin Wahid (Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang), Abd Rahman Masud (Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI), Munir Mulkhan (Guru Besar UIN Yogyakarta), Iik Mansurnoor (Visiting Profesor di Brunai).

Muhamad Murtadlo menyambut gembira dihasilkannya Bogor Komitmen ini. Menurutnya, naskah ini akan menjadi pegangan dan titik tolak untuk pelaksanaan Halaqah Ulama di tahun 2017. Kesepahaman ini sekaligus menandakan bahwa Badan Litbang Kementerian Agama semakin hadir dalam konteks regional ASEAN. Kesepahaman ini sekaligus menjadi salah satu jalan rintisan untuk pengembangan kerjasama riset pendidikan agama dan keagamaan di ASEAN, tandasnya. 

CyberBerkut dan Serangan Siber Rusia dalam Politik Regional

Banyak negara mulai menyadari bahwa pemilu mereka telah dimanipulasi oleh pihak asing demi memenangkan salah satu calon.

Seperti yang dialami oleh Amerika Serikat dalam pilpres 2016 baru-baru ini.

Dalam sebuah laporannya, media ini (baca) menyoroti bagaimana Ukraina mengalami konflik sipil karena ulah Hactivist dalam kelompok CyberBerkut.

Selain di Ukraina, kelompok ini juga membantu Rusia dalam perang di Georgia.

Wikileaks Meminta Obama Buktikan Rusia Meretas Pilpres AS

Pihak Wikileaks meminta Presiden AS Barack Obama untuk membuktikan bahwa Rusia terbukti meretas email-email calon kandidat Hillary Clinton dan Partai Demokrat.

Verifikasi itu akan membuktikan bahwa Wikileaks bekerja dengan kredibel. (baca)

Sebelumnya Obama menuduh bahwa Rusia (baca) kemungkinan ikut meretas komputer-komputer yang terkait di AS untuk memenangkan Donald Trump.

Wikileaks menekankan (baca) bahwa sumber-sumber bocoran dokumen yang ada pada mereka bukan dari Rusia.