Jeruk Makan Jeruk, Alias Batak Makan Batak

Solidaritas sosial merupakan modal utama bagi perantau untuk survive di tegah arus kompetisi individual dan kolektif di dunia yang semakin global ini. Pada tahun 70-an, dikatakan solidaritas sosial antar orang Batak tercipta sebegitu tinggi sehingga orang Batak yang naik angkutan umum biasanya akan gratis karena yang punya angkutan maupun kondekturnya adalah orang Batak.

Namun pandangan itu tidak lagi tampak di era millenium ini. Seiring dengan pesatnya kemajuan zaman dan susahnya mencari penghidupan yang semakin sedikit, banyak orang Batak yang kemudian menjadikan orang Batak lainnya sebagai target operasi dalam upaya untuk survive itu.

Artinya solidaritas sosial yang dulunya sangat dipertahankan tersebut ternyata dapat dikalahkan oleh kejamnya perkembangan zaman. Seorang Batak yang berprofesi sebagai wartawan di sebuah media Ibukota mengatakan bahwa sekarang ini sangat sulit bagi seorang Batak untuk menunjukkan identitasnya bahkan kepada orang Batak sendiri kalau tidak akan mengalami pelecehan dan kekerasan.

Di Pasar Senen misalnya, katanya dia mengalami penipuan dan pemaksaan yang anarkis dari penjual buku bekas yang kebanyakan orang Batak. Kekerasan itu, yang membuatnya terpaksa membeli buku yang ditawar, bahkan terjadi setelah dia memperkenalkan diri sebagai orang Batak dan melakukan komunikasi dengan bahasa Batak.

Sebenantnya Istilah Batak makan Batak tidak hanya ada di Jakarta. Tapi juga di Sumatera Utara sendiri yang nota bene tempat tinggalnya orang Batak. Dulu, bila orang-orang mudik ke kampung halaman dalam pergantian tahun misalnya mereka akan mengalami pemerasan yang tidak bermartabat dari orang Batak sendiri, bisanya orang Simalungun, saat bis yang mereka tumpangi wajib singgah di Terminal Pematang Siantar.

Sebuah bengkel motor milik orang Batak di Kebon Baru dekat Asem Baris yang terletak di simpan sebuah sekolah SMU, misalnya, akan mengenakan harga yang cukup tinggi apabila diketahui pemilik motor adalah orang Batak.

Pemilik bengkel ini adalah orang Batak yang sangat suka menunjukkan kebatakannya tapi siapapun yang mendatangi bengkelnya akan dikerjai dengan harapan mendapat upah yang sangat tinggi. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai bengkel neraka karena kerusakan kecil dapat dimanipulasi menjadi sebuah kerusakan yang menguras uang pemilik bengkel.

Banyak orang BAtak, khususnya mereka-mereka yang menghalalkan segala cara itu, berupaya berlindung di balik tameng keetnisannya untuk merasa bebas melakukan tindakan anarkis. Para kriminal tersebut tidak perduli apakah tindakannya itu malah merusak citra orang Batak sendiri atau bahkan semakin mengucilkan masyarakat Batak pada umumnya dengan stereotipe-stereoripe yang merendahkan.
loading...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »